Recent Reader

Kamis, 14 Februari 2013

aliran empirisme



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang.
            Kaum kaum adalah penerus sekaligus pejuang bangsa di masa yang akan datang. Kaum muda yang penuh dengan idealisme yang matang menjadi harapan yang harus dijunjung sekaligus mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Menjadi persoalannya ketika kaum muda yang kita bangga-banggan tersebut adalah menjadi  salah satu persoalan bangsa ini kedepan. Kaum muda menjadi salah satu tantangan bagi bangsa dan negara dalam dekade akhir-akhir ini. Hal ini bukan berarti kaum muda menjadi rival masyarakat yang harus dimusnakan. Kaum muda adalah sahabat yang perluh ditolong untuk mengatasi persoalan persoalan yang sedang dihadapinya. Tantangan dalam konteks kaum muda adalah persoalan-persoalan yang sedang digeluti oleh kaum muda yang memiliki dampak terhadap mobilisasi  masyarakat luas.
            Perilaku dan tindakan kaum muda yang sifatnya destruktif sering kali meresahkan berbagai elemen masyarakat. Kasus-kasus yang menimpah kaum muda seperti minum minuman keras, seks bebas, narkoba merupakan sederetan kasus yang berimplikasi terhadap dekadensi moral kaum muda. Bila keadaan demikian, apa yang kita harapkan dari  kaum muda? Maka dari itu, penulis mengakat tulisan ini untuk mengkaji beberapa masalah yang dihadapi oleh kaum muda serta kebenaran aliran empirisme dalam kaitanya dengan dekadensi moral kaum muda tersebut. Penulis  berkeyakinan bahwa  aliran empirisme memiliki kebenaran dari prespektif negatif dalam kaitan dengan dekadensi kaum muda. Karena itu, penulis mengangkat tulisan dengan judul “Kebenaran Aliran Empirisme dalam Relevansinya dengan Dekadensi Moral Kaum Muda”. 
1.2.Tujuan Penulisan
1.2.1.Tujuan Umum
Ø  Agar pembaca mengetahuai beberapa kasus yang sedang dialami oleh kaum muda sekarang serta kaitanya dengan dekadensi moral kaun muda.
Ø  Agar pembaca memahami secara garis besar aliran empirisme dalam dunia pendidikan klasik serta kaitanya dengan kasus-kasus yang dihadapi oleh kaum muda.
Ø  Agar pembaca memahami betapa pentingnya aliran empirisme dalam mempengaruhi moralitas kaum muda.
1.2.2. Tujuan Khusus.
           Tujuan khusus dari tulisan ini adalah untuk memenuhi tanggung jawab penulis dalam menyelesaikan tugas ujian tengah semester mata kuliah Landasan Pendidikan.
1.3. Rumusana Masalah
Ø  Apa yang dimaksudkan dengan aliran empirisme dalam aliran pendidikan?
Ø  Kasus-kasus apa saja yang sedang dialami oleh kaum muda sekarang?
Ø  Apa hubungan aliran empirisme dengan dekadensi moral kaum muda?
1.4. Sistematika Penulisan
                  Sistematika penulisan terdiri tiga bagian, yaitu:
BAB I: PENDAHULUAN, yang terdiri dari beberapa sub pokok, yaitu: latar belakang penulisa, tujuan penulisan, rumusan masalah dan sistematika penulisan.
BAB II: PEMBAHASAN, yang terdiri dari bebrapa sub pokok, yaitu: aliran emprisme selayang pandang, kasus-kasus yang dihadapi oleh kaum muda, Kebenaran Aliran Empirisme dalam Relevansinya dengan Dekadensi Moral Kaum Muda. 
         BAB: III PENUTUP, yang berisikan kesimpulan dari tulisan ini dan saran dari penulis      bagi segenap pembaca.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Aliran Empirisme Selayang Pandang.
            Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari di dapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empiric yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak.
            Aliran empirisme dipandang berat sebelah, sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung.
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricisim) dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “The School of British Empircism” (aliran empirisme inggris). Namun, aliran lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama “environmentalisme” (aliran lingkungan) dan psikologi bernama “environmental psychology” (psikologi lingkungan) yang relatif masih baru (Rober, 1988).
            Doktrin aliran empirisme yang amat mashyur adalah “tabula rasa”, sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini para penganut empirisme (bukan empirisme) menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.
             Jika seorang siswa memperoleh kesempatan yang memadai untuk mempelajari ilmu politik, tentu kelak ia akan menjadi seorang politisi. Karena ia memiliki pengalaman belajar di bidang politik, ia tak akan pernah menjadi pemusik, walaupun orang tuanya pemusik sejati.
Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman, sedangkan kemampuan dasar yang di bawa anak sejak lahir, di kesampingkan. Padahal ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lungkungan tidak terlalu mendukung.
            Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik atau kearah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dengan demikian pendidikan diyakini sebagai sebagai maha kuasa bagi pembentukan anak didik. Karena pendapatnya yang demikian, maka dalam ilmu pendidikan disebut juga Aliran Optimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini yaitu John Locke.
2.2.Macam-Macam Kasus Kaum Muda yang Menyebabkan Terjadinya Dekadensi Moral.
            Dalam kaitannya dengan moral kaum muda, penulis mengangkat beberapa persoalan yang dihadapi oleh kaum muda sekarang ini. Persoalan-persoalan itulah yang menyebabkan terpuruknya moral kaum muda tersebut. Setidaknya ada tiga kasus yang diangkat dalam kaitannya dengan dunia kaum muda.
2.2.1. Kasus Narkoba.
            Setidaknya ada tiga tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa ini, yaitu: korupsi, terorisme, dan narkoba. Narkoba menjadi salah tantangan terbesar karena dapat merusak generasi penerus (kaum muda). Narkoba menjadi musuh kita bersama. Kasus narkoba seringkali dikaitkan dengan keberadaan kaum muda zaman sekarang. Hal ini  perlu diakui oleh kita, bahwa dari sekian banyak kasus narkoba yang paling banyak adalah menimpa kaum muda. Anak muda adalah korban sekaligus pelaku dalam kaitannya dengan kasus narkoba. Secara radikal kita dapat mengambil kesimpulan bahwa narkoba dan kaum muda “berteman” yang mana satu dengan yang lain saling mempengaruhi.
            Berkaitan dengan kasus narkoba, ada beberapa elemen masyarakat yang secara suka rela ingin memberantas kasus tersebut. Seruan anti narkoba di mana-mana terjadi, baik itu melalui slogan maupun sejenisnya, sebagai bentuk keprihatinannya terhadap kasus narkoba ini. Setidakanya ada organisasi yang mengatasnamai sebagai pemberantas narkoba seperti GARANK, hal ini menunjukan betapa seriusnya bangsa ini dalam menghadapi maraknya kasus narkoba. Tentu dalam hati kita bertanya-tanya ada apa dengan kaum muda di negri ini? Apa yang salah pada mereka? Apakah memang bangsa kita sudah ditakdirkan untuk menjadi pemakai narkoba? Atau secara ektrim kita bertanya apakah memang kaum muda sudah memiliki bakat sejak lahir untuk mengosumsi narkoba? Pertanyaan demi pertanyan yang muncul dari dalam diri kita tetapi apakah kita juga pernah berpikir dan mencari penyebab serta solusi untuk melepaskan jeratan kaum muda dari kasus tersebut?.
            Kaum muda menjadi obyek sekaligus subyek dalam kasus narkoba serta memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Hal ini sunggu terpukul manakala disaat ini kaum muda sedang mencari jati diri yang sesungguhnya untuk menyonsong masa depan. Ketika dalam mencari jati dirinya tersebut kaum muda dirundung masalah, maka habislah bangsa ini. Apa lagi yang mau diharapkan dari kaum muda bila terjerat dalam kasus narkoba.
2.2.2.Kasus Sex Bebas (free sex).
            Kasus yang sering terjadi pada diri kaum muda adalah hamil diluar nika. Hal ini mengindikasikan bahwa kasus seks bebas (free sex) sudah marak terjadi dikalangan kaum muda. Ada begitu banyak kaum muda yang putus sekolah atau pun putus kulia karena hamil diluar nika. Masalah ini akan menggangu dan menghambat masa depan kaum muda itu sendiri. Sebagai wanita yang hamil di luar nika, pasti akan menanggung beban ekonomi maupun beban psikologi. Dari sisi ekonomi ia harus mengeluarkan uang yang secukupnnya untuk merawat janin yang dikandungnya, sedangkan dari segi psikologi ia harus menahan malu sebab ada ejekan yang datang dari orang-orang terdekatnya atau pun tetangganya. Sebagai kaum pria juga sama beratnya jika ternyata kehamilan pada seorang wanita adalah akibat ulahnya. Beban moral dan sosial pun harus ditanggung oleh kedua insane yang terjerumus dalam kasus seks bebas tersebut.
            Sex babas (free sex) adalah masalah terbesar yang sering kali dihadapi oleh kaum muda sekarang ini. Tentu kita masih ingat dengan istilah “kumpul kebo”, yang mana istilah ini ditujukan kepada orang-orang yang sering kali melakukan hubungan sex di luar nika. Sex bebas (free sex) adalah kasus sosial yang sudah semestinya ditanggapi secara serius oleh semua elemen masyrakat tanpa ada pengecualian. Sadar atau tidak sadar sex bebas (free sex) bukan hanya terjadi pada kaum muda saja, tetapi anak-anak yang semestinya belum mengenal hal itu pun terlibat di dalamnya. Sungguh ironis bangsa ini, ketika kasus-kasus seperti ini mermbat dari akar rumput maka mau dibawa kemana bangsa ini. Secara sempintas kasus sex bebas hanya terjadi pada kaum remaja tetapi apa bila ditela’a secara mendalam maka bangsa ini akan dikejutkan dengan berbagai fenomena yang semestinya tidak terjadi pada anak-anak.
            Peredaran video porno yang tak terbendungi lagi menjadi dalang salah satu penyebab terjadinya sex bebas (free sex) tersebut. Dengan berbagai media elektronik yang begitu canggih telah mempermudah setiap orang termasuk anak-anak untuk mengakses video porno atau gambar porno. Bila hal ini terjadi secara terus menerus maka malapetaka akan menghampiri negri ini. Sehingga pertanyaan untuk kita renungkan apa yang terjadi dengan bangsa ini ke depan bila keadadan sepert ini?
2.2.3. Kasus Minum Minuman Keras dan Tawuran.
            Anak muda sering kali terlibat tawuran di jalan dan membuat keonaran di tempat-tempat umum. Sengaja penulis menjadikan kasus minum minuman keras dan tawuran dalam satu sub karena kedua kasus ini saling berhubungan secara langsung. Kaum muda yang terlibat dalam minum minuman keras (alcohol) secara tidak sadar akan terlibat percecokan di antara mereka. Sehingga sering kali berunjuk pada tawuran di jalan raya bahkan sampai pada klimaks sebuah kasus yaitu pembunuhan. Hal inilah yang  mencemaskan masyarakat disekitanya, sebab sering kali korban dari tawuran tersebut adalah masyarakat yang tidak bersalah.
            Baru-baru ini bangsa kita dikejutkan dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh kaum preman. Kalau ditelusuri lebih jauh premanisme sebagian besarnya adalah kaum muda. Keadan ekonomis adalah salah satu faktor terbesar yang membuat kaum muda terjun ke dalam dunia premanisme. Bahkan kasus premanisme menjadi topic hangat dalam setiap diskusi dilayar tv. Hal ini menunjukan bahwa kasus ini sudah mengganggu elektabilitas bangsa ini dan lebih lagi membuat masyarakat resah. Keresahan masyarakat bukan tanpa sebab, karena korban akibat dari tawuran tersebut bukan hanya yang terlibat tetapi juga orang-orang yang tidak bersalah.
            Dalam keadaan mabuk sesorang tidak akan mengenal baik dan buruk. Keadaan mabuk sering kali awal dari terjadinya tawuran. Lagi-lagi dalam kasus ini kaum muda tidak luput dari jeratannya. Kaum muda yang sering kali berkumpul bersama awal munculnya kasus ini. Minum minuman keras menjadi bagian dari hidup kaum muda dalam satu ikatan persahabat mereka. Sebagai ikatan persahabatan mereka, minum minuman keras adalah media yang paling tepat menurut mereka untuk mengikat persahabat tersebut. Sehingga setiap kali terjadi kasus tawuran sering memakan korban jiwa. Perlu diingat pula, bahwa implikasi dari minum minuman keras tersebut menyebabkan kasus lain seperti perampokan bahkan pembunuhan berencana.
2.3. Kebenaran Aliran Empirisme dalam Kaitannya dengan Dekadensi Moral Kaum Muda.
            Dekadensi moral kaum muda dipertontonkan dengan berbagai kasus yang sering kali dihadapi oleh kaum muda itu sendiri. Kenakalan kaum muda terjadi karena faktor luar diri (ekternal) yang tidak seimbang sehingga mempengaruhi mentalitas kaum muda. Tak dapat dielakan bahwa faktor lingkungan serta pengalaman yang  didapat kaum muda menjadi penyebab terjadinya kasus-kasus tersebut. Kasus dalam domain kaum muda sangat mudah terdeteksi dari seberapa jauh pergaulannya serta pengalaman hidupnya yang mana hal itu mempengaruhi kepribadian kaum muda. Dari beberapa kasus yang diangkat menjadi indikator bagi penulis untuk menentukan relavansinya dengan aliran empirisme dari sudut pandang negatif.
            Aliran empirsme berkeyakinan bahwa sikap dan perilaku sesorang dipengaruhi oleh lingkungan serta pengalaman yang dialaminya. Penulis pun berkeyakinan pula bahwa dalam konteks dekadensi morala kaum muda, lingkungan, pengalaman saling berkaitan dan memiliki hubungan yang kuat. Secara sederhana, penulis menelah kenakalan kaum muda terjadi karena faktor lingkungan dan pengalaman kaum muda yang tidak sesuai dengan norma dalam masyarakat.  Sadar atau tidak sadar kaum muda masuk dalam kasus-kasus tersebut seolah-olah terhipnotis oleh keadaan lingkungan serta pengalaman hidupnya yang memiliki nilai sensasi yang begitu menggiurkan. Dalam keadaan ini kaum muda lupa diri dan tidak sadar dan tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Keadaan ini membuat kaum muda menjadi tersandera dalam kasusnya dan sulit keluar dari keadaan tersebut.
            Dari kasus-kasus tersebut penulis mencoba mengkajinya serta menghubungkannya dengan paham empirisme. Adapun beberapa kasus yang telah diangkat dan sekarang penulis mencoba mengkaitkannya dengan aliran empirisme. Pertama, kasus narkoba. Sudah dibahas secara garis besar bahwa narkoba adalah mega kasus yang dihadapi oleh bangsa ini dan memiliki dampak sosial yang begitu tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis menegaskan bahwa kebenaran aliran emprisme tidak perluh diragukan lagi bila dihadapkan dengan kasus narkoba. Seoarang terjerumus dalam kasus narkoba karena faktor lingkungan serta pengalama yang dialaminya (empiris). Seorang memakai narkoba karena lingkungan  yang ditempatinya sebagian besar telah masuk peredaran narkoba. Atau seorang memakai narkoba karena pengalamannya dengan orang terdekatnya yang mungkin sudah pernah memakai narkoba sebelumnya. Keyakinan ini didukung dengan melihat begitu banyaknya kaum muda, yang terjerumus dalam kasus ini yang mana sebagian besar adalah orang-orang yang tinggal di lingkungan kota yang sudah terkontaminasi akan transaksi narkoba. Atau ketika kaum muda tinggal dikeluarga yang tidak harmonis (broken home) sering kali cepat terjerumus dalam dunia narkoba. Sebab kalau berbicara mengenai seseorang memakai narkoba berarti ada situasi atau pengalaman baik itu yang dilihat maupun dirasakan oleh seseorang sehingga mempengruhi perbuatannya tersebut (memakai narkoba).
            Secara sederhana penulis menghubungkan aliran empirisme dan kasus ini dengan argumen adalah bahwa seorang manusia tidak dilahirkan dengan bakat untuk memakai narkoba. Tetapi lingkungan serta pengalamannya tersebutlah yang mempeharuhi perbuatanya untuk memakai narkoba. Pengalaman yang didapat bersama orang-orang terdekatnya akan mempengaruhi prilakunya tersebut. Dari sudut pandang negatif aliran empirisme memiliki kebenaran mutlak dalam mempengaruhi seseorang menjadi pemakai narkoba atau pun tidak.
            Kedua, Sex bebas (free sex). Manusia adalah makhluk seksualitas. Artinya bahwa dalam kehidupannya manusia tidak terlepas akan kebutuhan biologisnya yaitu sex. Seksualitas adalah anugerah Allah yang paling mulia dan baik wanita maupun pria harus menghormatinya. Karena itu, sex bukanlah barang mianan yang siapa saja dengan seenak boleh mempermainkanya. Maka dari itu, sex bebas (free sex) adalah salah satu bentuk penghinaan terhadap diri sendiri, sebab manusia hanya melakukan hubungan sex dengan pasangan suami istri yang sah. Dengan kata lain, dengan melakukan sex bebas (free sex) berarti kita menjual diri sendiri dan secara sadar kita merendahkan martabat kita.
            Sex bebas (free sex) sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana kaum muda itu berada. Jika pergaulan yang salah maka seseorang akan terjerumus dalam dunia hitam tersebut. Ini berarti benar seperti paham emprisme yang mengatakan bahwa perilaku manusia bisa ditentukan oleh lingkungan serta pengalaman yang dialaminya. Seseorang akan masuk ke dalam dunia hitam tersebut karena lingkungan serta apa yang didapatinya dari pengalaman hidup. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh masyrakat dalam membentuk karakter kaum muda.
            Ketiga, minuman keras dan tawuran. Kasus ini juga yang sering kali meresahkan masyrakat. Faktor lingkungan menjadi andil besar dalam proses munculnya kasus ini. Seorang anak akan menjadi pemabuk apabila ia bergaul dengan orang yang suka mabuk. Seorang tidak dilahirkan dengan bakat untuk menjadi pemabuk, karena itu hal-hal yang mempengaruhi dirinya yang berasal dari luar sangat menentukan kasus tersebut. Seseorang akan lebih muda terpengaruh bila melihat temannya ikut dalam tawuran. Secara perlaha-lahan seorang masuk kedalam kasus tersebut karena stimulus dari luar yang memaksakannya bergabung dalam wilayah terlarang tersebut.
            Sebagai sahabat, kaum muda akan mudah terpengaru dengan ajakan temannya. Dalam konteks inilah kaum muda sering kali terhipnotis dengan tawaran-tawaran yang sifatnya hanya sensasi belaka. Tindakan Kriminal pun pasti akan terjadi demi terwujudnya keinginan tersebut. Karena itu penulis berkeyakinan bahwa kebenaran aliran dalam kaitannya dengan dekadensi moral kaum muda tidak perlu diragukan lagi.
           
           















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan.
            Aliran empirisme adalah paham dalam dunia pendidikan yang mana kepribadian serta perilaku anak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Artinya bahwa dalam proses perkembangan manusia yang paling berperan penting dalam membentuk karakter seorang manusia adalah lingkungan ataupun pengalaman yang didapatnya dari hasil pergaulannya maupun apa yang diamatinya. Aliaran ini berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan ibarat kertas putih polos yang mana suatu saat akan diberi tinta baik berwana merah, biru, hitam atau pun kuning sangat bergantung pada siapa yang akan memberikan tinta tersebut. Hal ini berarti bahwa kepribadian dan karakter seorang manusia sangat bergantung pada siapa yang mendidik dan dimana tempat individu tersebut berada.
            Dekadensi mioral kaum muda dipengaruhi oleh tindakan kaum muda yang sering kali meresahkan masyarakat. Kasus-kasus seperti narkoba, seks bebas, minum minuman keras dan tawuran telah mencoreng wajah kaum muda. Sederetan kasus ini menimbukan pesimisme masyarakat terhadap kaum muda yang akan menerima tugas sebagai penerus bangsa. Bila kondisi seperti ini, maka sia-sia sudah harapan masyarakat kepada kaum muda yang penuh idealisme untuk membangun bangsa ini kedepan.
            Dari uraian tersebut, penulis melakukan  generalisasi antara hubungan aliran empirisme dengan dekadensi moral kaum muda. Kasus-kasus yang dihadapi oleh kaum muda sekarang ini dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat tinggal dimana invidu tertentu berada. Kalau kita meneropong lebih jauh lagi bahwa aliran empirisme menitik beratkan perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh lingkungan. Ditelusuri dari sudut pandang negatif bahwa jelas dekadensi kaum muda dipengaruhi oleh lingkungan. sehingga menurut penulis aliran empirisme memiliki kebenaran dalam kaitannya dengan penyebab dekadensi moral kaum muda.
3.2. Saran.
            Sebagai kaum muda sekaligus kaum akademis sudah semestinya kita sadar akan eksistensi kita dalam menata bangsa ini kedepan. Kita kaum muda adalah pioner pembangunan bangsa ini. karena itu kita harus peka terhadap persoalan yang dihadapi oleh kaum muda sekarang ini. Persoalan yang dihadapi oleh kaum muda sekarang adalah persoalan yang begitu komplek, seperti kasus narkoba yang juga tergolong dalam kejahatan luar biasa. Karena itu dalam mengatasi kasus narkoba tersebut harus dengan cara yangluar biasa pula.
            Untuk mengatasi persoalan ini, masyarakat harus menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tempat perkembangan individu terutama kaum muda. Kaum muda juga harus diberi kesempatan yang sama dalam berorganisasi. Hal ini sangat mempengaruhi pengalaman dalam perkembangan kepribadiannya. Sebab, apa bila yang didapatnya bersifat konstruktif maka akan berdampak baik pada perkembangan kepribadiannya begitu pun sebaliknya kalau pengalaman yang didapatnya bersifat destruktif maka akan berdampak buruk pada proses perkembangannya. diakhir tulisan ini, penulis mengajak kita semua,” mari kita dukung kaum muda dengan megontrol aktivitas kaum serta memberikan kesempatan yang sama kepada kaum muda untuk melakukan hal-hal positif.
           












DAFTAR PUSTAKA
Bora, Peppy, 2010, Makalah: Kemerosotan Moral Kaum Muda dalam Era Globalisasi, kuwu, Ruteng.
Poejawidjatna, 1998,  Tahu Dan Pengetahuan “Pengantar ke Ilmu dan Filsafat”, Rineka Cipta, Jakarta.
Suhartono, Suparlan, 2008, Wawasan Pendidikan Sebuah Pengantar Pendidikan, AR-RUZ MEDIA, Jogjakarta
Syah, Muhibbin, 2010, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Remaja Rosdakarya, Bandung
Tirtarahardja, Umar, dan S. L. La Sulo, 2005,Pengantar Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Jakarta.
WEB:
http:// www.dedeyahya.com/2011/04/makalah-filsafat-dan-sains.html. diakses pada tanggal 16 Maret 2012.
Http://miftahfauzi38.blogspot.com/search/label/filsafat. diakses pada tanggal 15 Maret 2012.

Dikutip dari http://www.sciencemadesimple.com/science-definition.html. diakses pada tanggal 15 Maret 2012.

http: // zizakamal.blogspot.com/2009/03/aliran-aliran-dalam-pendidikan-islam.html




0 komentar:

Poskan Komentar